h1

bis-mu mengalihkan perhatianku

November 21, 2009

“Aah…! Sial! Dapet bis-nya yg penuh lagi! Musti berdiri nih!”
Ingat kapan terakhir kali Anda mengatakan kalimat seperti itu? Ya, saya yakin itu pasti ketika Anda sedang dalam perjalanan dalam sebuah kendaraan yang penuh ke suatu tujuan, bukan? Misalnya saja ketika Anda pulang. Yah, memang menyebalkan bukan, ketika Anda ternyata harus naik kendaraan dengan berdesak-desakkan, sambil berdiri pula, ditambah bau asap rokok dimana-mana, bau ayam, bau keringat, serta bau-bau lainnya lagi, tersebar merata ke seluruh penjuru ruangan. Padahal, kalau dipikir-pikir, Anda sudah menunggu lama, dan membayar sama pula dengan penumpang lainnya (kecuali tentu saja beda antara penumpang yg ke bekasi sama ke majalengka). Maka dari itu, Anda layak untuk kesal. Sebagai seorang pelajar dan anak koss-an asli, saya sangat mengerti bagaimana perasaan para pengguna kendaraan umum, terutama kendaraan bis, karena saya juga sering memakai kendaraan umum secara teratur untuk pulang ke rumah, kalau gak bawa avanza (becanda itu…). Kadang-kadang seminggu sekali, 2 minggu 2 kali, 3 minggu 3 kali, dst. Dan seringkali tiap perjalanan pulang saya mengalami kejadian di atas. Saya pun tak bisa memungkiri kalau saya kadang-kadang kesel juga sama kejadian itu, apalagi kalau sudah ada asap rokok berseliweran ke sana-sini. Maaf saja yah, saya asli anti-rokok. Kadang saya mikir juga, “ngapain sih orang-orang makan asap? Kokoro pisan jadi jalema teh!” saat itu kekesalan menumpuk, namun tak bisa dilampiaskan. Akhirnya saya hanya bisa menggerutu dalam hati.”duh, gusti, mugi-mugi saha wae nu ngarokok di bis ieu tikoro na pindah ka liang buj** na!” dan sumpah serapah lainnya dalam 3 bahasa yg berbeda : bahasa sunda, bahasa sunda kasar, dan bahasa sunda kasar keterlaluan (yg hanya bisa dimengerti oleh diri sendiri). Tapi walau bagaimanapun, itulah kenyataan yg sedang dihadapi, dan saya menyadari dengan sepenuhnya keadaan itu. Coba sekarang bayangkan orang lain juga. Mungkin sekali bahwa mereka ternyata lebih tidak menguntungkan keadaannya. Daripada saya. Kadang-2 suara hati yang murni berasal dari hati muncul begitu saja dari lubuk hati yg terdalam, dan itulah yg menyelamatkan saya dari hiruk-pikuk nya situasi dalam perjalanan tsb. Bahkan kadang-kadang kalau ada penumpang yang membutuhkan tmp duduk lebih dari saya, saya suka berdiri dan bertukar tempat dng orang tsb, terlebih kalau cewe kece (becanda.,).Dan satu hal lagi yang membuatku bertahan adalah mengingat rumah, satu-satunya alasan kenapa saya naik kendaraan itu. Jika kita mengingat hal itu, maka kita akan sadar bahwa ternyata tidak ada yang salah sama sekali kita berada dalam kendaraan itu, termasuk dengan semua situasi yang ada didalamnya, karena pada akhirnya kendaraan itulah yang akan mengantarkan kita ke tujuan. Ketika kita sadar akan hal itu, maka seluruh proses perjalanan kita dalam kendaraan itu bukan lagi menjadi hal yang menjengkelkan, tetapi menjadi suatu yang justru mungkin berkesan. Jadi, ya udah, gitu aja. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: